Merawat Rasa Dengan Cara yang Paling Sederhana
Dibuat Oleh: Tria Marita
Malam itu, langit terbentang cerah tanpa awan, bintang bertabur dengan cuma-cuma, dan rembulan menggantung utuh di angkasa.
Kinara Arunika, seorang mahasiswi ekonomi semester dua, tersenyum senang di teras depan kosnya. Sesekali ia menggaruk pergelangan tangan yang mulai memerah, sedikit digigit nyamuk, sebenarnya. Ia malas menyalakan obat nyamuk bakar; lagi pula, jemputannya sebentar lagi datang.
Ponselnya bergetar pelan di telapak tangan. Nama Ibu menyala di layar. Kinara menarik napas sejenak sebelum mengangkatnya.
“Iya, Bu?” suaranya dibuat setenang mungkin, berusaha menepis degup yang tiba-tiba tak beraturan.
“Kamu lagi di mana, Nara?” tanya ibunya dari seberang sana, nada suaranya lembut tapi penuh kecurigaan.
“Di kos, Bu. Ini mau keluar sebentar sama teman,” jawab Kinara, jujur setengah-setengah. Matanya menerawang ke langit, seolah bintang-bintang bisa memberinya keberanian tambahan.
“Teman yang mana?” jeda singkat menyusul, terlalu singkat untuk terasa wajar. “Bukan sama Rangga, kan?”
“Bukan, Bu,”
Bohong!. Sejak awal, nama Rangga adalah satu-satunya tujuan. Mereka hanya ingin keluar berdua sebentar, menikmati malam yang jarang seramah ini.
Sementara di kejauhan, suara motor yang ia kenal perlahan mendekat. Derunya tak terburu-buru, seperti sengaja memberi waktu bagi Kinara untuk merapikan perasaan yang masih kusut. Tak lama kemudian, motor itu berhenti tepat di depan gerbang kos.
Rangga Nawasena datang dengan motor Vario hitamnya. Ia mengenakan kemeja hitam dengan kancing terbuka, memperlihatkan kaos putih polos di dalamnya. Penampilannya sederhana, nyaris tak berusaha mencuri perhatian, seolah kehadirannya memang ditujukan hanya untuk satu orang—Kinara.
Rangga adalah mahasiswa Teknik Informatika di kampus yang sama dengan Kinara, bedanya saat ini ia sudah memasuki semester empat. Mereka memang terpaut satu tahun sejak awal.
Kinara dan Rangga telah saling mengenal sejak bangku sekolah dasar, dan saat mereka duduk di bangku SMA, kedekatan itu pelan-pelan berubah bentuk. Tak lagi sekadar teman yang kebetulan satu daerah, melainkan dua remaja yang mulai saling mencari, saling menunggu, dan saling menyimpan perasaan.
Namun justru setelah kedekatan itu menguat, kabar buruk datang. Ayah Rangga terseret perkara yang merugikan keluarga Kinara. Sebuah perkara yang berakhir dengan kehilangan kepercayaan, nama baik yang tercoreng, dan sisa-sisa kecewa yang menetap terlalu lama untuk sekadar dimaafkan.
Sejak saat itu, nama Rangga selalu datang bersama nada waspada, kehadirannya selalu dianggap sebagai bayangan dosa orang tuanya.
Rangga segera turun dari motornya, menegakkan badan lalu melangkah mendekat dengan senyum tipis yang selalu sama sejak dulu.
“Looh, udah nunggu lama, Raa?” ujar Rangga sambil tersenyum canggung. “Tadi katanya masih siap-siap, jadi aku bawa motornya pelan-pelan. Maaf ya, Raa, nunggu lama jadinya.”
Kinara menggeleng pelan “Nggak kok, baru aja siap,” jawab Kinara sambil tersenyum kecil. “Pas banget kamu datang. Ayuk, jalan.”
Rangga membalas senyum itu, tampak lega. Ia segera mengambil helm cadangan dan memakaikannya pada Kinara dengan gerakan yang sudah terlalu akrab untuk sekadar teman. Setelah itu, ia membuka step motor, memastikan Kinara benar-benar dalat naik dengan mudah.
Motor melaju pelan menyusuri jalanan yang lengang. Lampu-lampu jalan berderet seperti garis kuning pucat. Rangga mengendarai motor dengan kecepatan yang tenang, seolah paham bahwa malam ini bukan untuk dikejar.
Motor itu akhirnya menepi di sebuah warung wedang ronde di pinggir jalan. Warungnya sederhana dengan meja kayu panjang, bangku-bangku pendek, dan panci besar yang mengepulkan uap hangat.
Di warung itu, setelah beberapa teguk wedang ronde menghangatkan tubuh, Rangga akhirnya angkat bicara.
“Ra, kamu udah izin ke ibumu, kan, buat keluar sama aku?” tanyanya pelan.
Sendok di tangan Kinara berhenti berputar. Uap jahe masih mengepul di antara mereka, mengaburkan pandangannya sejenak.
"Nggak," sungut Kinara, merengut. "Enggak inget terakhir kamu pamit sama ibu gimana? Aku nggak suka kamu direndahin kaya gitu..."
Rangga terdiam. Ah, bohong kalau ia bilang ia tidak sakit hati. Masih terngiang jelas di memorinya bagaimana interogasi ibu si gadis di depannya ini. 19 tahun hidup sebagai Rangga Nawasena, tidak pernah ia merasa lebih rendah daripada tanah. Rangga selalu diajarkan untuk tetap mengangkat kepalanya tinggi-tinggi. Tetap berprospek, tetap memiliki pandang.
Rangga hanya bisa mengembus napasnya. "Aku nggak mau bawa kabur anak orang malam-malam tanpa izin yang punya, Raa."
"Nggak, nggak mau!" ujar Kinara lagi, keras kepala.
"Jangan, nanti-"
"Ra." Rangga berujar lagi dengan nada rendah, "Biar gimana pun, kamu milik keluarga kamu. Kita individu yang berbeda Ra, nggak terikat apa-apa. Sedangkan kalian masih diikat hubungan darah. Aku nggak mungkin bawa kabur kamu tanpa izin kan?"
"Nggak pernah Mama aku ajarin buat jadi laki-laki penakut," ujar Rangga lagi, mengusak helai gelita milik Kinara. "Iya Raa, aku emang anak mama. Jadi, biarin aku lakuin apa sesuai kata Mama aku ya?"
Ia menatap Kinara lekat-lekat. “Lain kali, sebelum kita pergi ke mana pun, kamu harus izin ke ibumu. Bahkan kalau aku belum dengar izinnya langsung atau setidaknya yakin kamu benar-benar diizinkanaku nggak akan bawa kamu keluar. Bukan karena aku takut, tapi karena aku mau jaga kamu. Dan jaga diri aku sendiri.”
Kalau ditanya apa hubungan diantara mereka sebenarnya, maka jawabannya adalah abu-abu. Tak pernah ada kalimat resmi yang mereka ucapkan. Tak ada pengakuan, tak ada janji, tak ada status yang bisa dipamerkan atau dipertanyakan. Hubungan mereka berjalan di wilayah yang abu-abu, terlalu dekat untuk disebut sekadar teman, namun terlalu rapuh untuk diberi nama dengan suara lantang.
Setelah wedang ronde mereka tandas dan piring-piring kecil di meja kembali kosong, malam terasa semakin larut. Rangga bangkit lebih dulu, meraih dompet dan membayar di kasir, sementara Kinara menunggu dengan pandangan yang tertambat pada sisa jahe di mangkuknya.
Perjalanan pulang mereka berlangsung lebih sunyi dari sebelumnya. Motor Rangga melaju pelan, seolah memberi waktu bagi pikiran masing-masing untuk menyelesaikan riuhnya sendiri. Jalanan yang tadi terasa ramah kini diterangi lampu-lampu yang mulai meredup, namun langit tetap sama, bintang masih bertabur, rembulan masih utuh, seakan enggan tak ikut campur urusan manusia.
Seoanjang perjalanan tidak ada percakapan, hanya angin yang lewat dan detak perasaan yang sama-sama dijaga. Ia tahu, cinta mereka bukan jenis yang boleh tumbuh sembarangan. Ada restu yang belum dimiliki, ada masa lalu yang masih berdiri kokoh.
Namun di tengah keterbatasan itu, mereka memilih merawat rasa dengan cara yang paling sederhana, saling menghormati. Rangga memilih batas agar Kinara tetap aman di mata keluarganya. Kinara memilih menerima, tanpa memaksa dunia untuk menurutinya.
Comments
Post a Comment