TEMPAT TEDUH
Dibuat Oleh: Tria Marita
Malam turun perlahan dan lampu kamar menyala temaram, memantulkan bayang-bayang di dinding, sementara jarum jam berjalan pelan seakan enggan mengusik ketenangan. Sebuah ponsel bergetar pelan, bukan sebagai gangguan, melainkan undangan untuk saling hadir dari jarak yang tidak bisa diringkas.
Di ujung sana, Damar Argantara-mahasiswa semester satu yang usianya terpaut dua tahun lebih tua bersandar pada ambang jendela, membiarkan udara malam menyentuh wajahnya setelah hari panjang ia lewati dengan tugas kuliah yang sampai sekarang pun belum selesai sepenuhnya.
Di ujung lain, Ira Kartika-seorang remaja perempuan yang masih duduk di kelas dua belas SMA merapikan selimutnya, menata hati yang sejak sore menyimpan banyak cerita kecil khas remaja seusianya.
Status kakak tingkat dan adik kelas itu tak pernah benar-benar disebut dalam percakapan. Yang jelas, mereka dipertemukan oleh organisasi yang sama saat keduanya masih di bangku SMA-dan sejak saat itu, kedekatan mereka tumbuh begitu saja. Keduanya terpisah setelah Damar memutuskan untuk berkuliah jurusan arsitektur di luar kota, namun malam ini mereka disatukan oleh satu garis tipis bernama panggilan. Nada sambung itu berdetak seperti detak jantung-menunggu diisi suara, menunggu diberi makna.
"Bingung milih jurusan apa?"
Padahal Kak Damar pasti tidak bisa melihatnya, namun Ira tetap mengangguk samar "Iya"
"Kamu sukanya apa, Ra?" Suara kak Damar yang menenangkan terdengar berat diujung telefon.
"Suka Kak Damar"
Terdengar suara gedebag-gedebug diujung sana, sepertinya pemilik nama Damar Argantara itu baru saja berdiri dari posisinya kemudian memukul benda di dekatnya-itu hanya dugaan Ira saja, tentunya.
"Hahaha-Ra, jangan gombal lagi, ya...." lirih Damar yang terdengar memelan tiap perkatanya. "Enggak baik buat jantung...."
"Iya, maaf," ujar Ira lagi, padahal tidak ada rasa bersalah dalam hati.
"Kamu sukanya mapel apa? Yang gak bikin frustrasi pas di sekolah, gitu?" tanya Damar lagi, lagaknya penuh afeksi dan atentif.
"Aku sukanya mapel kosong."
"Terserah, Ra, terserah."
Gelak tawa terdengar memenuhi ruangan. Sementara gerimis kecil sepertinya mulai menjatuhi genteng rumahnya di luar sana. Namun keduanya memilih diam dari segala kemungkinan untuk menyela; tak ada yang perlu dipermasalahkan, sebab percakapan mereka terlalu menarik untuk dihentikan, dan malam terasa cukup dengan suara satu sama lain.
"Kak Damar, kenapa pilih Arsitektur?" Giliran Ira yang balik bertanya. la merapatkan selimut ke tubuhnya, kedinginan.
"Kenapa ... hmm, kenapa, ya? Aku suka aja, gitu."
Kalau sama aku, suka nggak? Tapi Ira berbaik hati hanya menyimpan pertanyaan itu sendiri. Kasihan, nanti Damar kena serangan jantung, batal jadi arsitek.
"Ra, pokoknya kamu harus lakuin apa yang kamu suka. Aku tahu ibu kamu pasti bilang hal kayak- harus kuliah di kampus terkenal, ngambil jurusan yang keren dimata banyak orang, biar nanti setelah lulus bisa kerja di kantor besar, bisa dibanggakan semua orang, tapi coba dengerin hati kamu lagi ya, ra? karena nanti kamu sendiri yang bakal ngejalanin perkuliahannya"
Damar mengatakan itu bukan tanpa alasan. Ia tahu betul bagaimana ibu Ira kerap memandang masa depan dengan ukuran-ukuran yang rapi dan tinggi: nama besar kampus, jurusan yang prestisius, dan pekerjaan yang mudah dipamerkan. Ia sering mendengarnya dari cerita-cerita Ira. Damar selalu bisa membaca kegamangan yang selalu muncul setiap kali topik masa depan dibicarakan.
"Nggak kok, Kak. Ibu bolehin aku milih jurusan mana aja." Ira tersenyum tipis, samar dan hampir tidak terlihat. Dan berikutnya, suaranya melirih.
"Lagian, Ibu bilang, mau gimana pun juga nanti aku cuma kerja di dua ur ...."
"Maksudnya?"
"Kasur sama dapur."
"HAH!? APA-APAAN!"
Di sebrang sana, Damar jelas ingin menyanggah. Namun, Ira tetap memilih untuk melanjutkan perkataannya.
"Ibu juga bilang, jangan bikin malu keluarga. Kalau bisa, cari laki lulusan Kedokteran atau yang kerja di Pertambangan sana."
Suara Ira semakin pelan, teringat lagi perdebatan ia dengan ibunya yang lagi-lagi, hanya berakhir dengan hening.
“Ra,” suara Damar terdengar lebih tegas dari sebelumnya, namun tetap hangat,
“dengerin aku baik-baik, ya.”
“Nilai kamu, mimpi kamu, sama masa depan kamu itu nggak ditentukan dari kasur sama dapur. Kamu bukan rencana cadangan buat hidup orang lain.”
Ia menarik napas sejenak, seolah menahan emosi.
“Kamu berhak punya cita-cita, berhak capek ngejar sesuatu, dan berhak bangga sama pilihanmu sendiri.”
“Kalau soal bikin bangga keluarga, jadi diri kamu yang utuh dan bahagia itu udah lebih dari cukup. Kamu nggak perlu nyari laki-laki dengan gelar tertentu buat ngerasa layak. Kamu itu layak, Ra—bahkan sebelum semua gelar dan nama besar itu ada.”
Suaranya merendah, penuh kehati-hatian.
“Dan apa pun pilihanmu nanti, selama itu kamu yang milih, aku percaya kamu bisa ngejalaninnya. Jangan kecilkan dirimu sendiri cuma karena orang lain belum bisa ngeliat sejauh itu.”
Ira terdiam cukup lama setelah kata-kata Damar mengendap di kepalanya. Ada sesuatu yang perlahan luruh dari dadanya, seperti simpul yang akhirnya menemukan jalan untuk terurai. Ia menyadari, inilah alasan mengapa ia selalu nyaman berbagi kebingungan dengan Damar. kata-katanya tak pernah memaksa, tak menggurui, hanya hadir sebagai tempat teduh.
Untuk sesaat, masa depan tak lagi tampak sesempit percakapan-percakapan di rumah. Yang tersisa hanyalah keyakinan kecil bahwa dirinya boleh memilih, boleh ragu, dan boleh berjalan pelan. Ira mungkin belum menemukan jawaban, tetapi bersama Damar, kebingungan itu tak lagi menakutkan.
"Ra? Kamu masih di sana kan?"
Suara Damar mulai terdengar khawatir.
"Aduh, aku ada salah ngomong ya?"
"Enggak, Kak. Aku masih di sini," pungkas Ira, sebuah senyum terulas dari wajahnya.
"Kak, sebenci-bencinya aku sama Ibu dengan segala pemikiran kunonya. Aku bisa setuju sama satu hal."
"Hm? Apa?"
"Cari pasangan hidup yang mampu membela kamu. Bukan sebagai senjata namun sebagai tempat teduh. Bukan sekadar singgah tapi untuk menetap."
Ira berkata, terasa ada getaran di tiap katanya.
"Cari lelaki yang mau berdiri demi kamu, yang siap untuk menggandeng tangan kamu walau dunia kejamnya keterlaluan."
Akhirnya Ira mengembus napas, mengakhiri. "Kak Damar, paham?"
Di seberang sana, Damar tak segera menjawab. Dadanya terasa menghangat oleh kalimat-kalimat yang baru saja singgah, seolah Ira tanpa sadar sedang mengetuk ruang yang selama ini ia jaga rapi. Ada jeda panjang, diisi tarikan napas yang tertahan dan detak yang tiba-tiba tak beraturan.
Untuk pertama kalinya malam itu, Damar merasa perannya bukan lagi sekadar pendengar atau pemberi nasihat. Ada sesuatu dalam suara Ira yang membuatnya ingin berdiri di tempat itu: sebagai orang yang dimaksud, atau setidaknya, sebagai orang yang ingin berusaha.
Damar menatap lantai kamarnya yang temaram, meresapi satu per satu makna di balik ucapan Ira. Ia paham, bukan hanya pada kata-katanya, tetapi pada harap yang ada baliknya. Dan kesadaran itu membuatnya memilih diam sejenak lebih lama, menelan ludah, lalu tersenyum tipis sebelum akhirnya bersuara. Nada suaranya tak lagi sekadar tenang, melainkan penuh kesungguhan.
“Iya, Ra. Aku paham,” katanya pelan. “Dan ibumu benar. Setiap orang butuh tempat pulang, bukan medan perang.”
Ia berhenti sejenak, memastikan setiap kata keluar tanpa tergesa.
“Kalau suatu hari kamu nemuin orang yang mau berdiri di samping kamu, bukan di depan buat menutupi, bukan di belakang buat nyuruh, tapi di samping, buat jalan bareng… itu orang yang layak kamu jaga.”
Suaranya menghangat. “Dan kalau nanti dunia terlalu ribut, kamu pantas punya seseorang yang bikin kamu bisa bebas tanpa rasa takut. Seseorang yang milih bertahan, bukan cuma datang.”
“Kamu layak dapet itu, Ra. Sepenuhnya.”
Hening, tidak ada jawaban setelahnyaa. Ira terdiam setelah mendengar jawaban Damar. Kata-kata itu tinggal di kepalanya lebih lama dari yang ia kira. Ada rasa hangat yang tak ia beri nama, merambat dari dadanya hingga ke ujung napasnya.
Untuk sesaat, ia lupa pada hujan di luar, lupa pada segala tuntutan yang biasanya membuat kepalanya riuh. Yang tersisa hanya perasaan dipahami, bukan dihakimi, bukan dibenahi, hanya diterima apa adanya. Ira menatap langit-langit kamarnya, membiarkan senyum kecil hadir tanpa ia sadari.
“Astaghfirullah, Ra… aku lupa,”
Ucap Damar tiba-tiba, nadanya berubah seolah baru tersentak dari lamunan panjang. Ia melirik layar ponselnya yang kembali menyala, menampilkan pengingat yang sejak tadi terabaikan. Dadanya menghela napas pendek ketika menyadari satu hal yang tak bisa ditunda, tugas kuliah yang harus dikumpulkan sebelum pukul 23.59. Waktu bergerak tanpa menunggu, sementara ia terlalu larut dalam percakapan yang terasa menenangkan.
Damar mengusap wajahnya pelan, antara pasrah dan marah pada diri sendiri. Malam yang hangat itu mau tak mau harus diberi jeda, sebab ada tanggung jawab yang menuntut diselesaikan sebelum jarum jam benar-benar berhenti di angka terakhir hari itu.
“Ra, tugas gamtek-ku harus aku selesain malam ini juga. Waktunya tinggal satu jam lagi,” ujar Damar dengan nada sedikit terburu, namun tetap lembut.
“Padahal aku masih pengin ngobrol banyak, Ra.”
Ia berkata demikian sambil kembali menatap layar laptopnya yang sejak tadi menunggu disentuh. Ada rasa enggan untuk benar-benar menutup panggilan, seolah percakapan mereka masih ingin ia lanjutkan lebih lama.
"Ya Allah kak, kokk bisa sampe lupa sii"
Ira menahan napas sejenak. Di dadanya, ada perasaan capur aduk antara bersalah karena telah mengganggu waktu Damar dan kesal karena Damar sampai melupakan hal sepenting itu. Ada banyak kata yang ingin ia keluarkan. Namun, Ira tahu, ia tak bisa dan tak ingin mengomel panjang lebar.
“Yaudah kak, buruan dikerjain sebelum makin mepet lagi waktunya. Makasih banyak buat malam ini yaa, aku bener-bener kaya dapet pencerahan. Semangat ya, Kak. Jangan lupa istirahat setelahnya.”
Kalimat itu Ira ucapkan sambil menekan ponselnya sedikit lebih erat. Ia tahu betul kebiasaan Damar, ia tak akan pernah lebih dulu mematikan panggilan. Maka sebelum ada jeda yang membuatnya kembali lupa waktu, Ira segera mengakhiri telepon itu sendiri. Bukan karena ingin mengakhiri, melainkan supaya Damar segera mengerjakan tugasnya. Ia berharap satu jam ke depan cukup untuk Damar menyelesaikan tugasnya.
Kemudian tepat ketika panggilan itu dimatikan sunyi kembali mengisi kamarnya, Ira kartika menyadari satu hal yang tak lagi bisa ia sangkal: ia mencintai Damar Argantara apa adanya. Bukan karena hal-hal besar yang bisa dibanggakan, melainkan karena caranya hadir dengan sederhana, bertutur dengan kelembutan, dan caranya memberi afeksi tanpa pernah menuntut balas budi.
Karena entah sejak kapan, pria bernama Damar Argantara itu benar-benar menjatuhkan hati Ira Kartika, menenangkan kegundahannya, dan menjadi tempat teduh ketika ia terjebak badai yang kejamnya keterlaluan.
Comments
Post a Comment